Motivasi Kemenangan

Namaku Mutiara Andini, aku duduk di kelas 3 SMA 6 GARUT. Setiap Hari aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Aku juga mempunyai seorang kakak perempuan. Dan aku adalah seorang anak penjual bakso. Pada suatu hari ibuku bertanya.

‘’Nak apakah kamu sudah membayar uang sekolahmu,?

‘’Belum bu,jawabku’’

‘’Nanti kalau ibu punya uang,nanti ibu bayar ya’’

‘’iya bu’’

Di sekolah aku berteman dengan siapa saja, karena semua temanku sangat baik kepadaku. Guruku juga sangat baik dan ramah sekali. Dia selalu mengingatkanku jiga aku membuat kesalahan. Pokoknya aku sangat senang  bersekolah disana. Temanku juga selalu memotivasi ku untuk tidak menyerah dan selalu semangat untuk mewujudkan impian dan harapanku.

Mentari menyambut cerahnya pagi, aku duduk terdiam diri dan merenung mengingat masalah yang pernah aku lalui. Dan aku mencatat kejadian -kejadian itu di sebuah buku diary.

Begitu banyak masalah yang aku lalui hingga saat ini, perjuanganku untuk sekolah takkan pernah aku lupakan. Hampir saja aku menyerah untuk menggapai impianku. Tapi tuhan mengirimkan sahabat untukku yang selalu ada di sampingku. Aku pernah bermimpi ingin menjadi seorang dokter jiga kelak nanti. ”Muti apapun yang terjadi di masa depanmu, bagaimanapun keadaannya, sebesar apapun masalahmu, ingat, jangan pernah menyerah!” kata Kak Haris. Dan ”Jika kamu sudah merasa putus asa, ataupun menyerah, kamu harus ingat cita-citamu, lihat teman-temanmu yang sudah bisa mewujudkan cita-citanya, kamu pasti bisa Muti!. Kata-kata Kak Haris itu selalu memotivasi aku bahwa pasti Allah akan membantuku menggapai impianku untuk membahagiakan orang tuaku. Ayah dan Ibu, mereka adalah penyemangat terbesar ku.

Itu isi surat yang ku tulis dalam sebuah buku diary.

Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Aku mengangkat panggilan itu. Ternyata, itu ibuku.

 ”Assalamu’alaikum,”.

“Waalaikumsalam,” jawabku.

Ibuku mengabari bahwa kakak perempuanku sakit. Kakak dulu memang sering sakit maag. Tapi, sekarang dia mengalami gastritis erosif, penyakit yang disebabkan karena terlalu banyak minum obat-obatan, sehingga menyebabkan perandangan lambung. Kakakku harus dirawat di rumah sakit, sementara Ayah dan Ibuku belum punya uang untuk bayar administrasi.Keadaan kakakku semakin buruk bukannya semakin baik. Saat itu, aku bingung harus gimana karena aku juga tidak punya uang. Aku terdiam diri, padahal Ayah dan Ibu memberi aku uang untuk bayar sekolah. Aku berfikir, “Seandainya aku tidak memakai uang untuk bayar sekolahku mungkin, uangnya bisa bayar untuk biaya rumah sakit kakakku”. Pada pagi hari, aku berangkat sekolah. Guruku memanggilku ke ruang guru, aku penasaran kenapa aku dipanggil kesana.

“Muti, ada perlombaan Olimpiade Ipa di Garut dan ibu kepala sekolah ingin kamu yang mengikuti lomba itu. Hadiahnya uang tunai. Apakah kamu siap?, kata guruku.

“InsyaAllah bu Muti siap”.

“Alhamdulillah, kalau begitu kamu harus belajar yang rajin. Karena, lomba nya sebentar lagi.

“Iya, bu” jawabku.

Aku pun pergi ke kelas. Aku berdoa dalam hatiku “Ya Allah, semoga aku bisa memenangkan lomba ini, dan uangnya bisa untuk biaya kakakku. Aamin..”. Setelah pulang sekolah aku mengabari ibuku bahwa aku akan ikut lomba.

‘’Assalamualaikum bu, Muti dipilih kepala sekolah untuk mengikuti lomba Olimpiade Ipa, Muti sangat senang sekali bu,’’

 “Waalaikumsalam, Semangat ya nak, doa terbaik dari Ayah, Ibu, dan Kakakmu” kata Ibuku.

 “Iya bu, makasih do’a nya.

Tiba waktunya, aku lomba. Semua ucapan semangat, motivasi dari teman-temanku sungguh berharga untukku. Sampailah disana aku masuk ke ruangan lomba itu,soal pun dibagikan. Aku terus berdo’a agar di beri kemudahan untuk mengerjakannya oleh Allah.Setelah selesai mengerjakan semua peserta keluar.

Saat waktu dzuhur pun tiba, aku dan guruku segera mengambil air wudhu damn segera melaksanakan sholat dzuhur. Aku terus berdoa agar aku bisa memenangkan lomba ini. Setelah selesai sholat aku dan guruku langsung menunggu hasil lomba Olimpiade Ipa. Dan pada saat hasilnya keluar aku dinyatakan sebagai pemenang lomba tersebut, aku yang duduk terdiam tidak menyangka akan hal ini, berkat semua do’a dan dukungan.       

 “Selamat ya Muti, kamu berhasil” kata guruku

“Iya bu, ini semua karena doa dan dukungan ibu juga untuk Muti, makasih ya bu”.

Aku mengabari orang tuaku dan mereka sangat senang, aku pergi ke rumah sakit dan memberikan uang hadiah lomba itu ke orang tuaku.

“Ayah, Ibu ini uang hasil lomba, aku ingin ini uang untuk biaya kakak”

“Ya Allah, terimakasih ya nak, semoga kakakmu bisa cepat sembuh. Aamin… “Kata Ayah dan Ibu.

Setelah beberapa minggu kemudian, kakak pun sembuh dan boleh pulang. Aku yang terus mengejar cita-citaku akhirnya, aku bisa menyelesaikan sekolah ku dan bisa Kuliah mengambil Jurusan Kedokteran. Karena, Alhamdulillah aku mendapat BEASISWA dari sekolahku. Dan tiba waktunya, impianku tercapai aku menjadi seorang dokter. Tak pernah menyangka sebelunya aku yang hanya bermimpi ingin menjadi seorang dokter akhirnya bisa aku wujudkan. Do’a orang tua yang selalu mengiringiku, dan motivasi dari teman temanku, aku bisa menggapai impianku dan membahagiakan orang tuaku.

 

Terimakasih Ya Allah telah mengabulkan do’a ku dan membantuku untuk bisa mewujudkan impianku. Karena aku yakin Tuhan tidak akan memberikan cobaan diluar kemampuan hambanya.

Dari cerita itu aku belajar arti kesabaran dan arti perjuangan untuk menjalani hidup, karena dibalik semuanya akan ada kebahagiaan yang menungguku.

Profil Penulis
Anisa Novianti merupakan siswa berbakat yang dimiliki SMPN 1 Kersamanah, selain sebagai juara kelas ia juga pernah meraih juara 1 Mendongeng Bahasa Sunda Tingkat Kabupaten Garut.
Siswa kelahiran 13 Nopember ini bercita-cita menjadi ilmuan yang sukses.
Cerpen berjudul Motivasi Kemenangan ini sebagai salah satu karya diantara karya-karya lainnya.