Si Cantik dan Si Tomboy

Ini ceritaku. Aku dan sahabatku memiliki sifat saling bertolak belakang. Di sekolah, kami mendapat julukan si cantik dan si tomboy. Namaku Tiara, aku dijuluki si cantik. Sedangkan sahabatku, bernama Intan dia dijuluki si tomboy. Kadang kami bertengkar soal perbedaan sifat ataupun kemauan. Tapi, kami selalu berbaikan dan berjanji untuk berteman selamanya.
Pertemuan kami dimulai sejak kami masih SD. Saat itu, aku menangis karena merasa takut bertemu dengan teman sebayaku. Kemudian, Intan datang menenangkanku yang sedang menangis. Mulai saat itu, kami menjadi sahabat dekat sampai sekarang.
Waktu berlalu dengan cepat, tak terasa persahabatan kami sudah lama terjalin dan kami sekarang sudah masuk SMP. Di awal masuk sekolah, persahabatanku dengan Intan semuanya berjalan dengan baik. Kami sama-sama berada di kelas 7-A. Kami mendapatkan seorang teman baru yang bernama Sherly. Sherly orangnya baik dan pintar, dia juga mudah bergaul. Kami selalu bersama baik sedang belajar di kelas maupun sedang istirahat di kantin untuk mengisi perut yang kosong.
Pada suatu hari, ketika pelajaran olahraga. Aku, Intan, dan Sherly masuk tim yang sama di permainan bola basket. Tentu saja kami tidak khawatir akan kalah, karena sahabatku Intan yang tomboy ini jago di dalam permainan olahraga. Pak Zaki selaku guru olahraga, mengadakan pertandingan bola basket antar kelas dan kami memasuki babak final. Kebetulan kami bertanding dengan kelas 7-B, yang tidak kalah kuatnya. Setelah berhadapan dengan mereka, awalnya kami merasa minder. Tapi, kami yakin akan menang karena kami memiliki Intan dan semangat yang membara.  
“Semuanya siap di tempat, kita mulai hitung 1,2,3 mulai!” Pak Zaki memuali aba-aba. Benar saja, Intan langsung beraksi dengan bola yang ada di tangannya. Gerakannya yang cepat dan cara bermainnya yang baik, membuat lawan kelelahan mengikuti larinya yang gesit dan lawanpun tidak bisa berkutik.
Setelah pertandingan yang berlangsung lama dan cukup menguras tenaga hingga keringat membasahi baju kami. Akhirnya kami memenangkan pertandingan bola basket, dengan perolehan skor akhir adalah 42-35. Kemenangan kami dirayakan dengan makan bakso di kantin.
Namun, sebulan kemudian masih seperti hari-hari biasanya aku baru menyadari sesuatu. Aku dan Sherly pulang sekolah bersama dan Intan tidak bisa ikut karena di panggil oleh Pak Zaki. Ketika hendak menyebrang Sherly membisikkan sesuatu,”Tiara ini baru permulaan, sebentar lagi kamu akan masuk ke perangkapku!”. Apa maksud dari perkataan Sherly, tiba-tiba Sherly memegang tanganku dan dia membuat tanganku seolah mendorongnya ke jalan.”Akhhh! satu kata yang keluar dari mulutnya.”Hei, kalau nyebrang lihat-lihat!” kata Pak Supir yang hampir menabrak Sherly.”Pak, aku melihat gadis itu yang mendorongnya” kata salah seorang dari mereka yang menjadi saksi mata. Mereka semua menyalahkanku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Sherly terlihat pura-pura menangis dan merasa ketakutan.
Setelah kejadian itu, besoknya aku di panggil ke ruang guru. Semua guru mengintrogasiku, tapi aku terus membantahnya. Tentu saja mereka tidak percaya, karena ada banyak saksi mata. Semua usahaku sia-sia, aku pun di hukum skors selama sepekan. Aku menjalankan hukuman itu dengan terpaksa, tapi kenapa Sherly melakukan itu. Memangnya aku salah apa, sampai dia berbuat seperti ini.
Skors sepekan sudah selesai, waktunya masuk sekolah dan di sekolah pun aku merasa tidak nyaman. Intan sahabatku juga tidak pernah menemuiku lagi, jangan-jangan dia percaya kalau aku yang mendorong Sherly dan juga Sherly yang terus menekanku dengan kejadian kemarin. Di kelas aku terus di fitnah maupun dikucilkan oleh teman sekelasku, aku harus bagaimana menghadapi semuanya. Sampai aku ingin ke toilet juga banyak yang bergosip tentangku.
Pada suatu hari, ketika aku masuk ke kelas dan mendorong pintu seketika turun air dari atas pintu dan membuat bajuku basah. Teman-teman sekelas hanya menertawakanku maupun merekam kejadian tadi dan juga memasukkannya ke social media. Aku merasa malu dan berlari ke luar sekolah dan menuju taman dekat rumahku. Biasanya taman itu sepi dan jarang didatangi orang dan kalau aku ke rumah hanya akan menambah masalah bagi orang tuaku. Di taman aku menangis sepuasnya, tapi itu tidaklah cukup aku belum merasa lega.
Aku memutuskan untuk menemui Sherly dan meminta penjelasannya. Akhirnya aku menemukan Sherly sedang sendiri di taman, dan aku menghampirinya. ”Sherly, aku belum mengerti, kenapa kamu melakukan itu kepadaku dan memangnya aku ada salah apa sama kamu?”kataku dengan terheran-heran. ”Tiara kamu itu mudah banget ditipu, aku jadi mau lihat kamu yang lebih menderita lagi” itulah yang dikatakannya sambil tertawa licik. “Apa maksudmu?” kataku. ”Memang kamu tidak salah apa-apa, tapi yang bersalah adalah ayahmu dan tunggulah kamu akan lebih menderita lagi!” katanya dengan nada yang tinggi dan meninggalkanku sendiri. Aku berpikir, memangnya apa yang sudah ayahku lakukan kepada keluarga Sherly dan apa maksud dari kamu akan menderita lagi.
Besoknya aku berangkat ke sekolah dan melupakan kejadian kemarin. Sekarang aku merasa senang karena Intan mengajakku bertemu setelah sekian lama. Kemudian Intan berkata,”Tiara aku akan langsung mengatakan intinya, aku mau kita berhenti bersahabat”. Aku terkejut dengan kata sahabatku itu, “Kamu kenapa Intan, apa kamu juga percaya kalau aku yang mencelakai Sherly”. “Kamu tidak perlu tahu, aku hanya ingin persahabatan kita berakhir!” katanya yang terasa sedikit terpaksa. Aku menyetujui permintaannya, jika itu bisa membuatnya senang walaupun membuat hatiku sakit. Saat itu juga duniaku sudah hancur, orang tuaku yang selalu sibuk dan membuatku kesepian hanya sahabatku Intan yang selalu menemaniku di saat sendirian. Sekarang aku kembali sendirian dan merasa kesepian. Tidak ada seseorang pun yang bisa aku ajak bicara.
Seminggu kemudian, aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidupku. Karena, setiap hari aku hanya merasa tersiksa di sekolah dan semua orang yang mendekatiku menjadi menjauhiku atau memusuhiku. Jadi, tidak ada alasan lagi bagiku untuk hidup. Meskipun itu tidak menyelesaikan masalah, tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan semua penyiksaan ini. Aku menaiki sebuah gedung kosong dan hendak melompat tapi ada seseorang yang berteriak” Tiaraaaaa!!!”. Namun terlambat, kakiku sudah melompat kebawah dan dengan cepat dia menarik tanganku. Ketika aku melihat mukanya ternyata dia Intan, “Kenapa kamu menolongku, kita sudah bukan teman lagi,” teriakku.”Apa kamu segitu tersiksanya sampai mau mengakhiri hidupmu seperti ini, naik dulu nanti aku jelasin!” kata Intan yang sedang menangis. Aku menuruti perkataannya dan berusaha untuk naik kembali.
Setelah aku berhasil naik, Intan berbicara padaku,”Maafkan aku Tiara, tidak seharusnya aku memutuskan persahabatan kita dan membuatmu tersiksa. Tapi, kenapa kamu sampai ingin mengakhiri hidupmu?!”. “Aku hanya punya satu sahabat tapi kamu malah mengatakan ingin memutuskan pertemanan kita. Aku tidak punya siapa-siapa lagi, karena itu aku ingin mengakhiri hidupku!” jawabku. Kemudian Intan menjelaskan bahwa dia diancam oleh Sherly untuk berhenti berteman dengan Tiara, kalau tidak dia akan membuat Tiara lebih tersiksa lagi. Aku juga menceritakan kejadian waktu itu, bahwa aku tidak mendorong Sherly tapi dia menarik tanganku seolah aku mendorongnya.
Setelah itu, kesalah pahaman kami selesai. Aku dan Intan kembali berteman seperti dulu, sekarang tinggal masalahku dengan Sherly yang harus diselesaikan. Kami berencana mencari bukti bahwa aku tidak bersalah, kami terus mencari rekaman CCTV yang ada di tempat kejadian. Namun kami tidak menemukannya, rekamannya seperti dihapus. Ternyata kami baru menyadari, ada satu CCTV lagi yang belum diperiksa, benar saja ada bukti rekaman Sherly menarik tanganku dan setelah terjatuh dia berlari menuju sebuah gang kecil. Kami segera pergi menuju gang kecil itu dan menemukan ada CCTV, di dalam rekaman itu Sherly bertemu dengan dua orang pria lalu membayarnya. Ketika aku melihatnya, dua orang itu adalah supir dan orang yang memfitnahku. Jadi, Sherly sudah merencanakan semuanya.
Sekarang aku sudah punya bukti untuk melawan Sherly, dua hari kemudian aku dan Intan sudah menyusun semua bukti. Lalu kami mengirimkan rekaman itu ke social media dan memberikan penjelasan tentang kejadian itu. Ternyata banyak orang yang meminta maaf ke Tiara atas perbuatannya selama ini dan pihak sekolah meminta maaf atas kejadian itu. Terkecuali Sherly, dia tidak menerima hukuman dari pihak sekolah dan malah berteriak ke semua orang sambil tertawa dengan kencang. Ibu Sherly menjemputnya dari sekolah dan mengatakan Sherly mengalami gangguan mental, sejak ayahnya dipecat dari pekerjaannya dan masuk penjara.
Aku baru ingat, ayah Sherly adalah staf karyawan di kantor ayahku. Tapi, pada suatu hari dia dipecat karena korupsi menggelapkan uang perusahaan. Karena ayahnya tidak bisa membayar semua hutangnya, akhirnya dia di laporkan ke pihak berwajib dan akhirnya harus menjalani hidup di penjara. Ternyata selama ini, Sherly menaruh dendam kepadaku karena aku adalah anak dari pemilik perusahaan yang memenjarakan ayahnya.
Seminggu kemudian orang tuaku pulang, karena orang tuaku selalu pulang ke rumah setiap tiga bulan sekali. Sebelumnya, Aku tidak begitu dekat dengan mereka, tapi sekarang aku merasa ada yang aneh dengan mereka. Orang tuaku tiba-tiba perhatian kepadaku dan bersikap selayaknya orang tua biasanya. Dahulu orang tuaku bersikap cuek dan hanya peduli pada pekerjaannya saja. Ternyata mereka sudah tahu apa yang terjadi padaku selama mereka tidak ada, kemudian mereka berjanji akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamaku. Dengan begitu, aku berbaikan dengan orang tuaku dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.
Aku mulai menjalani kehidupan baru dengan orang yang aku sayangi, keluarga yang hangat dan sahabat terbaikku. Aku merasa bahagia. Tak terasa, sekarang aku sudah kelas 9 SMP, dan mulai menghadapi kelulusan. Aku dan Intan berencana akan memasuki SMA dan Kuliah yang sama. Intan sahabatku yang tomboy, walaupun banyak masalah yang menghadapi kita, selamanya kamu adalah sahabat terbaikku
Pofil Penulis :    Kanisa Ayra Nabila merupakan siswi kelas 8-B, ia peraih Juara Umum sewaktu kelas 7,  Cerpennya ini merupkan salah satu buah karya kepiawaian menulisnya. Siswi kelahiran 25 April ini  mempunyai kegemaran melukis dan bernyanyi